Sejarah Singkat Pahlawan Pattimura
MOLUKEN: Nama asli
dari THOMAS MATTULESY atau PATTIMURA adalah KABARESI, ia dilahirkan di
tanah Maluku pada tahun 1784 dan dibesarkan dalam keluarga MATTULESY.
KetiK ia dibaptis diberi nama THOMAS MATTULESY, selanjutnya setelah
dewasa ia memasuki dinas kemiliteran militsi Kerajaan Inggris yang saat
itu menduduki Indonesia dari tahun 1811-1817.
Karena keberaniannya didalam tugas
kemiliteran militsi Kerajaan Inggris, ia mencapai pangkat SERSAN MAYOR,
dan karier militernya harus berakhir karena di Eropa tengah berlangsung
Revolusi Perancis, dan untuk membendung revolusi Perancis maka Indonesia
harus dikembalikan kepada Belanda.
Guna melicinkan jalannya penyerahan
Indonesia kepada Belanda, Negara-negara koalisi di Eropa kontra Revolusi
Perancis mengadakan muktamar di Wina pada tahun 1814 dan menganjurkan
kepada inggris agar mengembalikan Indonesia kepada Belanda. Sejalan
dengan muktamar WINA tersebut, maka pada tahun yang sama antara Inggris
dan Belanda mencapai kesepakatan yang capai melalui TRAKTAT LONDON 1814
yang salah satu isinya “Inggris mengembalikan Indonesia kepada Belanda.”
Pada tahun 1816, Pemerintah Belanda
mengutus 3 (tiga) orang Komisaris Jendral masing-masing bernama : ELANT,
BUYSHES dan VAN DER CAPELEN untuk datang ke Indonesia dalam rangka
menerima penyerahan Indonesia dari Pemerintahan Inggris. Pada tanggal 17
Agustus 1816 Pemerintah Inggris yang diwakili oleh Letnan Gubernur JOHN
VENDEL menyerahkan Indonesia kepada Pemerintahan Belanda, tetapi
penyerahan tersebut tidak membawa situasi damai bahkan melahirkan
konflik bersenjata di Maluku Tengah tepatnya di SAPARUA.
Konflik bersenjata di Maluku Tengah ini
dipimpin oleh Thomas Mattulesy yang disebut LAKI-LAKI KABARESI. Thomas
Mattulesy menyadari bahwa kembalinya Belanda ke Indonesia akan
memberlakukan kembali HONGITOCHTEN di Maluku bahkan kerja rodi dengan
DAG ORDER akan dihidupkan kembali, oleh sebab itu Thomas Mattulesy
bersama kawan-kawannya : ANTHONY REBOK, SAID PARINTAH dan PHILIP
LATUMAHINA menggerakkan rakyat di Saparua untuk menggempur BENTENG
DUURSTEDE tempat kediaman orang Belanda.
Pada tanggal 15 MEI 1817 Benteng
Duurstede di serang, dimana semua orang Belanda terbunuh termasuk
RESIDEN VAN DEN BERG, kecuali anak Van Der Berg yang masih kecil
diselamatkan oleh Thomas Mattulesy yang dipelihara sampai besar yang
kemudian dipulangkan ke Belanda dan diberi nama VAN DEN BERG VAN
SAPARUA. Inilah yang menunjukkan bahwa Thomas Mattulesy memiliki rasa
kemanusiaan yang tinggi.
Bersama dengan serangan terhadap Benteng
Duurstede di Saparua, di NUSALAUT pergerakkan dipimpin oleh CHRISTINA
MARTHA TIAHOHU dan PAULUS TIAHOHU bapaknya menyerang dan menduduki
BENTENG SELANDIA di NALAHIA NUSALAUT. Kedua serangan yang dilakukan
terhadap Belanda di Benteng Duurstede dan Benteng Selandia mengejutkan
Pemerintah Belanda di AMBON.
Untuk menumpas gerakan di Saparua dan di
Nusalaut, maka GUBERNUR VAN MIDELCOP di Ambon menugaskan EKSPEDISI
PERTAMA dibawah pimpinan KAPTEN BECEES berangkat ke Saparua untuk
menumpas gerakan Thomas Mattulesy dan kawan-kawan. Ketika pasukan Kapten
Becees akan mendarat di PANTAI WAISISIL, ARMADANYA dapat dihancurkan
oleh pasukan Thomas Mattulesy pada tanggal 20 Mei 1817.
Dengan gagalnya Kapten Becees dengan
pasukannya, maka Gubernur Van Midelcop memerintahkan pembentukan
EKSPEDISI KEDUA dibawah pimpinan KOLONEL VAN DE GROOT. Ketika Kolonel
Van De Groot bersama pasukannya tiba di Saparua, maka setiap tempat yang
didatanginya di bumi hanguskan sehingga ruang gerak pasukan Thomas
Mattulesy dan kawan-kawan dipersempit, yang pada akhirnya mereka
tertangkap dan ditawan.
Demikian pula dengan pergerakan dari
Christina Martha Tiahohu dan Paulus Tiahohu, yang pada akhirnya
tertangkap, dimana Paulus Tiahohu dihukum pacung dihadapan rakyat
Nusalaut, sedangkan Christina Martha Tiahohu dibawa ke Saparua dan
bersama-sama Thomas Mattulesy, Said Parintah, Anthony Rebok dan Philip
Latumahina dibawa ke Ambon untuk menjalani hukuman mati, dengan kapal
laut EVERTSEN para pejuang kusuma bangsa ini dibawa ke Ambon.
Saat kapal Evertsen kira-kira diantara
pulau ambon dan pulau Buru, tiba-tiba air mata membasahi geladak kapal
Evertsen dimana Christina Martha Tiahohu kusuma bangsa yang memiliki
semboyan, “LEBIH BAIK MATI BERKALANG TANAH DARIPADA HIDUP DIBAWAH
TELAPAK KAKI PENJAJAH BELANDA,” berpulang dipangkuan TUHAN YANG MAHA
PENCIPTA dengan tenang, jenasahnya dikebumikan di laut BANDA.
Selanjutnya Thomas Mattulesy, Anthony Rebok, Said Parintah dan Philip
Latumahina melanjutkan perjalanan ke Ambon dan ditawan di BENTENG
VICTORIA AMBON.
Tepat pada tanggal 16 Desember 1817,
para pejuang kusuma bangsa ini menjalani hukuman mati gantung didepan
Benteng Victoria, satu persatu naik ke tiang gantungan, pada saat tiba
Thomas Mattulesy melaksanakan hukuman tersebut, berpesanlah ia kepada
seluruh rakyat Maluku demikian, “KAMI PATTIMURA-PATTIMURA TUA BOLEH
DIHANCURKAN, TETAPI KELAK AKAN MUNCUL PATTIMURA-PATTIMURA MUDA UNTUK
MENERUSKAN PERJUANGAN KAMI”.
Perlu diketahui bahwa Thomas Mattulesy
diberi gelar PATTIMURA sebab ia merupakan pemimpin yang pertama atau
yang paling awal yang muncul di Indonesia bagian timur yang menentang
kembalinya penjajahan Belanda.
Pemerintah NKRI memberikan penghargaan
sebagai “PAHLAWAN NASIONAL” dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor : 087/TK/1973 tanggal 06 Nopember 1973, sedangkan Christina
Martha Tiahohu diberikan penghargaan oleh Pemerintah NKRI sebagai
“PAHLAWAN KEMERDEKAAN NASIONAL” dengan Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor : 012/TK/1969 tanggal 20 Mei 1969.
Demikian sejarah singkat perjuangan Pahlawan Nasional PATTIMURA dan CHRISTINA MARTHA TIAHOHU untuk kita kenang bersama.
Naskah ini dibacakan oleh Bpk Ir. RILES
WATTIMENA pada perayaan peringatan Hari Pahlawan Nasional Pattimura yang
diselenggarakan IKMMS-MASOHI Semarang pada tanggal 26 Mei 2003 di
Gedung TBRS Semarang. (***






0 komentar:
Posting Komentar